-->

Asa Itu Selalu Ada Bagi Siapapun yang Memperjuangkannya



Kisah ini bukan untuk mengorek luka lama, namun kami didikasikan untuk mengenang perjuangan Uti dalam membesarkan keenam putra-putrinya dalam kesederhanaan dan segala keterbatasan beliau. Juga perjuangan putra-putri beliau dalam menggapai mimpinya.

Untuk bekal cucu-cicitnya mengenal sosok luar biasa Uti nan sederhana ini, juga kegigihan putra-putri beliau dalam memperjuangkan mimpinya.

Menjadi orang-tua tunggal diusia muda dari istri kedua seorang pria dewasa bukanlah impian banyak gadis tentunya. Begitu pula Utiku. Sejak kecil kami memanggilnya dengan sebutan Mbah Putri, namun karena lidah kami saat kecil susah untuk memanggil seseorang dengan kata yang panjang, jadilah kami memanggil beliau dengan panggilan Uti. 

Diboyong dari Tempeh, Lumajang menuju belahan kota kecil lainnya di Jawa Timur yaitu di Kraksaan, Probolinggo. Diusia yang masih belia, sekitar 15 tahun.

Pada masa itu bagi sebagian masyarakat, jika anak perempuan sudah datang bulan berarti dia sudah akil baligh dan siap menerima pinangan.

Jadilah Uti menjadi pendamping kedua Mbah Kakung yang Kepsek Sekolah Rakyat di salah satu desa kecil yang sekarang menjadi kecamatan di sebuah daerah Kabupaten Probolingo. Sedangkan istri pertama Mbah Kakung meninggal sebelum menikah dengan Uti dengan meninggalkan delapan putra-putri yang sudah remaja dikarenakan sakit.

Saat itu usia Mbah Kakung sekitar empat puluh tahun, beliau kelahiran tahun 1901 dan usia putri kedua Mbah Kakung dari istri pertama tidak terpaut jauh dengan usia Uti.
Sejak menikah dengan Mbah Kakung, hampir setiap dua tahun sekali Uti melahirkan. Hingga tak terasa di tahun ke-12 pernikahan beliau. Uti sudah memiliki dua orang putri dan empat orang putra.

Pada masa itu, mempunyai anak banyak adalah hal yang biasa, mungkin dikarenakan pasca perang dan belum terlalu banyak hiburan.

Namun masa-masa bahagia itu akhirnya tak berlangsung lama, di tahun kedua setelah putra terkecil beliau berusia dua tahun, tepat di bulan April 1963, Mbah Kakung meninggal.

Perjalanan panjang Utiku dalam membesarkan keenam putra-putrinya sendirian pun dimulai.
Bukan hal mudah pastinya, karena Uti tidak terdidik dari sekolah umum. Beliau hanya berpendidikan terakhir sekolah madrasah. Yang notabene kala itu, sekolah madrasah hanya mempelajari bahasa dan tulisan Arab saja, jadi nyaris Uti tidak mengenal huruf abjad.
Kondisi yang tidak mungkin di zaman sekarang.

Berbekal pensiunan Mbah Kakung kala itu, Uti dengan segala keterbatasannya mencoba terus bertahan demi ke-6 putra-putrinya. Bisa dibayangkan dengan enam orang anak, di usia yang masih remaja dengan pendidikan terakhir madrasah tidak bisa membaca dan menulis huruf latin pula. Seolah-olah keluarga kecilnya akan dibawa kemana juga beliau tak tahu.
Persoalan mulai muncul saat permintaan anak-anak untuk sekolah. Sedangkan pengelolaan keuangan semuanya memakai bahasa Indonesia dan huruf latin. Uti mulai kesulitan.

Namun atas wasiat Mbah Kakung dikarenakan menyadari kekurangan Uti ini, akhirnya pengelolaan keuangan sebelum Mbah Kakung meninggal diserahkan pada putri kedua beliau dari Ibu pertama.

Kondisi ini mengakibatkan untuk sementara waktu, Uti dengan keenam putra-putrinya harus ikut satu rumah dengan keluarga besar Bu Dhe H di rumah  besar Mbah Kakung.

Konflik internal pun mulai bermunculan. Seperti cerita-cerita sinetron di televisi konflik horisontal pun dimulai, yang pada dasarnya tidak menyukai anak-anak dari Uti. Istri kedua Mbah Kakung.

Memang dibanyak situasi, menjadi istri kedua atau pun diduakan sebagai istri, mempunyai ketidak-nyamanan yang sama. Baik di pihak perempuannya maupun pada  pihak anak-anaknya.
Sepertinya kenyamanan hanya di pihak kaum adam saja.
Dikarenakan Mbah Kakung merupakan pensiunan Kepsek kala itu, tentu warisan yang beliau tinggalkan harusnya lumayan banyak. Namun seperti biasa, urusan duniawi terkadang selalu menyilaukan dan sering tidak mengenal saudara.

Untuk mempertahankan hak dikala ilmu yang dipunyai sangatlah terbatas dan ketidak-berdayaan karena dipinang kala usia masih belia, serta jauh dari kedua orang-tua beliau. Hal ini membuat Uti nyaris tidak siap menghadapi kerasnya dunia dengan beban tanggung-jawab yang luar biasa besar.

Singkat cerita wewenang pengelolaan keuangan diambil-alih oleh keluarga Bu Dhe H sesuai kebijakan keluarga besar Mbah Kakung atas persetujuan saudara-saudara Bu Dhe H tentunya.

Kalimat terakhir dari kondisi di atas, membuat kelima puta-putri Uti terpisah dari pengasuhan Uti, tentunya dengan latar belakang alasan duniawi.

Situasi yang sangat tidak nyaman, baik dalam posisi Uti maupun kelima putra-putrinya, terutama karena terdapat satu orang putra dan satu orang putri Uti yang harus terpisah di dua kota yang berbeda. 

Putri pertama Uti yang masih kelas 1 SMP dipaksa menikah dengan pria dewasa yang  belum dikenalnya (tentu impian indahnya masa remaja pun pupus sudah), Putra kedua Uti ikut putra ketiga Mbah Kakung dari Ibu pertama dengan tujuan akan disekolahkan. Ibuku yang merupakan putri ketiga Uti ikut putri keenam Mbah Kakung dari Ibu pertama juga dengan alasan yang sama karena akan disekolahkan. Dan terakhir putra keempat Uti ikut Bu Dhe H putri kedua Mbah Kakung dari Ibu pertama.

Putra kelima Uti harus ikut putra ketujuh Mbah Kakung dengan alasan yang sama, juga untuk disekolahkan. Sedangkan putra keenam Uti karena masih dalam buaian, tetap dalam pengasuhan Uti.
Jauh dari kampung halaman yang membesarkan, terdidik dengan tempaan yang keras serta minim kasih-sayang juga perlindungan. Membuat ibuku (putri ketiga Uti) yang kelas lima Sekolah Rakyat kala itu mulai tidak kuat bertahan, meskipun dengan alasan disekolahkan.

Ada satu kondisi yang amat krusial, hingga mengakibatkan Ibuku (putri ketiga Uti) harus keluar dari rumah putri keenam dari istri pertama Mbah Kakung ini di pagi buta. Ibuku kecil berjuang pulang kembali ke rumah Uti, yang jaraknya tidak dekat karena di luar kota.
Kondisi yang hampir mirip dialami juga oleh keempat saudara Ibu.

Akhirnya keempat putra Uti kembali pulang ke rumah Uti. (setelah pisah rumah dengan Bu Dhe H) Untuk mendapatkan perlindungan, hak sebagai anak juga kasih sayang, meskipun mereka berempat menyadari akan keterbatasan yang Uti punya. Salah satunya adalah mimpi untuk bersekolah yang bakalan susah terwujud.

Kembali dengan berbekal pensiunan janda PNS dari almarhum Mbah Kakung, ilmu keuangan serta hal-hal tulis menulis secara harafiah seadanya yang beliau pahami. Berusahalah Uti menyekolahkan kelima putra-putrinya. Namun putri pertama Uti tetap belum bisa melanjutkan sekolah karena sudah menikah, tak bisa meninggalkan keluarga. 
Menyadari kondisi Uti yang bersahaja dengan segala keterbatasannya, luar-biasanya putra-putri beliau selalu bersemangat dalam bersekolah. Tujuannya tak lain adalah untuk menggapai mimpi  mereka bisa keluar dari zona ketidak-nyamanan ini.

Karena keempat putra-putri Uti termasuk pelajar yang lumayan bersemangat dalam belajar, jadi di sekolah mereka selalu bisa diandalkan. Bahkan putra kelima beliau alhamdulillah termasuk pelajar berprestasi dan pernah dikirim sebagai pelajar teladan di tingkat propinsi.
Tentu merupakan satu kebanggan tersendiri bagi keluarga kecil Uti yang penuh dengan keterbatasan ini.

Akan tetapi meski hidup penuh dengan keterbatasan, puji syukur masih ada orang baik yang perduli dengan keterbatas keluarga Uti. Salah satunya Bapak Kepsek pengganti Mbah Kakung yang baik hati ini.

Beliau berkenan menerima ibu (putri ketiga Uti) sebagai tenaga pendidik di TK-nya meskipun Ibu masih berstatus pelajar SMA. Begitu pula dengan Bapak Kepsek tempat Ibuku sekolah SMA. Beliau juga berkenan memberikan dispensasi terlambat masuk kelas dalam proses belajar mengajar. Karena ibu baru bisa masuk sekolah setelah pulang mengajar TK.

Bagi Ibuku kondisi ini sangat disyukuri, karena bisa menambah income untuk biaya sekolah di paruh waktu Ibu sebagai pelajar SMA. 

Sambil bersekolah beberapa putra Uti yang lain juga bekerja di pabrik gula kecematan kami. Kondisi ini atas kebaikan dan bantuan dari putra ketujuh dari istri pertama Mbah Kakung.

Mendapatkan kesempatan bisa bekerja sambil sekolah tentu sangat disyukuri. Oleh karena itu dengan penuh semangat putra Uti bekerja secara total dan selalu bersungguh-sungguh dalam belajar. Walaupun sebagian kecil waktu untuk bersenang-senang pun hilang.

Begitu pula putri pertama Uti yang dinikahkan. Bersyukur pula karena adanya program penyetaraan sekolah dari pemerintah kala itu, akhirnya putri pertama Uti bisa bersekolah lagi.
Sebagai insan yang sederhana dan ilmu yang seadanya, dicurangi oleh saudara yang menginginkan hal duniawi pastinya sering terjadi. Bahkan nyaris warisan seadanya pun sudah berpindah tangan karena Uti tidak paham tata bahasa apalagi ilmu tentang tulis menulis huruf abjad. Kondisi yang sangat ironis.

Namun bagi Utiku kondisi tersebut tidak terlalu merisaukannya. yang ada dalam pemikiran beliau adalah terus bertahan dan memutar otak bagaimana bisa bertahan hidup dan melihat putra-putrinya bisa menggapai semua mimpinya.

Uti sangatlah taat dalam beribadah, sering berpuasa serta tak pernah melewatkan waktu untuk ibadah berjamaah di mushola dekat rumah. Kekuatan luar biasa beliau adalah doanya, ketabahannnya dan keikhlasannya.

Untuk bertahan hidup yang sering beliau lakukan adalah “cash bon” ke toko besar dekat pasar yang mau menerima “cash bon". Tentunya agar bisa menyambung hidup, hingga gaji pensiun bulan depan turun. Atau sering juga Uti menggadaikan emas peninggalan Mbah Kakung ke pegadaian kecamatan. Dan jika suatu saat ada uang berlebih, emas peninggalan Mbah Kakung pun berusaha ditebus kembali oleh beliau.

Andaikata masih kurang, Uti akan menjual jarit-jarit kesayangan yang masih bagus pemberian Mbah Kakung atau jarit kesayangan pemberian orang tua Uti ke pasar untuk terus bisa bertahan hidup.
Alhamdulillah setelah lulus sekolah menengah, satu per satu putra-putri Uti mulai menikmati perjuangan kerasnya hidup. Diawal tahun 1978-an Ibu (putri ketiga Uti) termasuk salah satu peserta CPNS yang lolos Prajab PNS guru SD, Putri pertama Uti lolos PNS-BKKBN, putra kedua, putra keempat dan kelima Uti sudah mulai mendapatkan posisi karyawan II di Pabrik Gula.

Serta puncaknya, tujuh belas tahun kemudian ketiga putra Uti yang dinas di Pabrik Gula sudah berada di level Karyawan I Pabrik Gula. Bekerja di pabrik gula pada era tahun 1980-2000 merupakan perusahaan BUMN yang menawarkan gaji dan fasilitas yang membuat banyak orang menginginkan posisi yang diperoleh ketiga putra Uti ini. Situasi ini cukup membanggakan bagi keluarga kecil Uti. Lelah Uti pun terbayar sudah, tergantikan guratan bahagia. 
Dari keberhasilan kelima putra-putri Uti, tersisa satu orang putra yang dulu saat Mbah Kakung meninggal masih dalam buaian Uti saja yang kurang beruntung. Satu-satunya putra Uti yang tidak lepas dari pengasuhan Uti.

Bisa jadi karena hal ini pulalah yang mengakibatkan kegigihan kelima kakaknya dalam menggapai jatuh-bangunnya mimpi, belum terwarisi pada adik bungsu mereka.

Namun apapun kondisinya Uti selalu berdoa demi kondisi yang lebih baik bagi putra-putri beliau beserta keluarganya.
Hingga di pertengahan tahun 1996, Uti pun berpulang menghadap Sang Khalik dengan damai dan bahagia. Usai sudah perjuangan panjang beliau dalam membesarkan keenam putra-putrinya.

Selamat jalan Uti, semoga Alloh Swt mengampuni segala dosa beliau, menerima segala amal-ibadahnya, melapangkan kuburnya dan menempatkan Uti bersama orang-orang yang sholeh. Amin


“Dan mintalah kepada Alloh dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya sholat itu amatlah berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”
(QS Al Baqarah: 45)

With love,
-Kinan-

Cerita pendek ini dimuat pada buku Antologi The Power of Single Moms" dalam Project Antologi Joeragan Artikel
Judul asli: Asa Itu Selalu Ada
Risensi, menyusul ya Sobat. ^_^

39 Responses to "Asa Itu Selalu Ada Bagi Siapapun yang Memperjuangkannya"

  1. Maasya Allah mba aku terhanyut baca kisahnya, seolah-olah ikut merasakan perjuangan mbah uti...:)

    ReplyDelete
  2. Masyaallah, perjuangan seorang mbah putri. jadi ingat mbah kakung aku, beliau enggak pernah neko2 orangnya, sering ngasih duit ke cucu padahal enggak ada uang. tapi bela2in jualan ini itu demi bisa ngasih duit ke cucu. terus kalo cucunya udah pada kerja dan kasih uang ke mbah kakung, duitnya disimpan enggak mau di pake katanya dari cucu harus di simpan. pengen nangis dan kangen. mbah kakung sebelum meninggal pun sempat2nya ke solo naik sepeda ontel padahal dari sragen lumayan jauh, cuma beli buah2an demi cucu2nya, duh jadi baper hiks hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Alloh mbak, jadi baper juga Mb Stef.
      Memang kasih sayang mbah kita nggak pernah diwujudkan dengan materi ya mbak.
      Datang dari Solo ke Sragen naik sepeda engkol, bikin hati serasa luluh, pingin nangis, pingin peluk. ��



      Delete
  3. Masyaallah, begitu beratnya perjuangan seorang ibu dengan segala keterbatasannya. Semoga jerih payah Beliau menjadi ladang amal yang tiada putus. Aamiin.

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah tabarakallah perjuangan uti. Aku terharu bacanya. Dengan segala keterbatasan Allah berikan kemudahan. Allah anugrahi rejeki yang baik untuk anak-anak uti yang merupakan hasil dari kegigihan dan sabarnya uti. So inspiring

    ReplyDelete
  5. Aku larut membaca tulisanmu mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak. Buat jejak cucu cicitnya mengenal sosok leluhurnya. ����

      Delete
  6. Mrebes mili aku mba baca perjuangan Uti... Namun, Allah yang Maha Memberi Rezeki, nyatanya Allah cukupkan semua kebutuhannya... Semoga husnul khotimah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mb Dwi.
      Alloh Swt Maha Kaya, Maha Baik, Maha Pengasih dan Maha Besar.
      Alhamdulillah dibukakan pintu2 kebaikan untuk putra putri beliau, walaupun tak mudah di awal.��

      Delete
  7. Kisah yang sangat inspiratif dan bisa jadi cerita untuk anak cucu. Kita bisa mabuk dari pelajaran ini ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mis Juli.Inspirasi nilai kehidupan dari orang-orang terdekat, selalu menghiasi hari-hari kita tanpa kita sadari.
      Bikin kita tambah ilmu nilai-nilai kehidupan.
      Bukan begitu Mis?

      Delete
  8. Perjuangan uti seperti dalam cerita senetron ya. Salut dg perjuangannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bunda Lies. Cerita kehidupan memang mirip sinetron televisi.

      Delete
  9. Masya Allah sebuah perjuangan yang melelahkan yang jadi berkah bagi anak keturunan ya Mbak..
    Al Fatihah buat Utinya Mbak Nanik yang luar biasa :)

    ReplyDelete
  10. Jadi ingat mamaku, single parent juga di usia muda dengan 9 orang anak. Qadarallah, Bapak Rahimahullah meninggal tanpa meninggalkan harta yg banyak.
    Masya Allah, selalu suka dan terinspirasi dari kisah2 perempuan tangguh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti juga berat dengan 9 orang anak terus melanjutkan hidup tanpa pendamping tercinta.
      Semoga Ibunda Mb Haeriah selalu sehat dan bahagia ya mbak.
      Aamiin

      Delete
    2. Aamiin. Terima kasih doa untuk mamaku, mba.

      Delete
  11. Kalau mengikuti kisahnya, kenapa ya orang zaman dulu tegar banget. Kalau zaman sekarang kan dikit-dikit mengeluh. Padahal zaman dulu engga ada apa-apa dibanding sekarang. Al Fatihah untuk Uti ya. Semoga keturunan beliau menyontoh perjuangan Utinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Zaman dulu nggak ada media elektronik dan media sosial kek nya Mb Hani, hehe.
      Jadi kalu mengeluh ya sama Gusti Alloh Swt saja. Jadi "keep strong" jalan keluarnya.
      Sepertinya sih. ��

      Delete
    2. Aamiin.
      Makasih Mbak Hani.
      Al Fatihah ...

      Delete
  12. MasyaAllah mbak, aku jadi teringat perjuangan kakung ama uti ku juga. Perjuangan menghidupi 8 orang anaknya demi masa depan yang lebih baik. Kemana-mana naik sepeda tuanya menjemput rezeki bagi putra putri beliau (jadi kangen ama mbah kakung aku mbak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mbak. Orang-orang zaman dulu benar2 sabar dan tabah.
      Tujuan hidup beliau hanya yang terbaik buat anak-anaknya, walau fasilitas dan keahlian tak banyak.

      Delete
  13. Sungguh perjuangan yang luar biasa mba. Apa pun keadaannya kita memang harus berusaha dengan keras. Tapi, aku tidak dapat membayangkan menikah di usia muda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Zaman dulu, sudah akil baligh dah diperbolehkan dipinang orang mbak. ��

      Delete
  14. Masya Allah, Uti sampean sosok yang tegar, ya. Sungguh tidak mudah membesarkan 6 anak dengan kondisi single mom. Insya Allah, beliau wanita salihah. Berpulang dalam keadaan lega karena anak-anaknya sudah 'jadi orang' semua.
    Allahummaghfirlaha warhamha waafihi wa'fuanha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Ya Robbalalamin.
      Makasih doanya Mb Tatiek.

      Delete
  15. Mewek mba...jadi ingat sama uti-ku juga. Hiks...Inspiratif perjuangan seorang uti pasti tulus ikhlas buat putra putrinya. Semua terbayar lunas saat perjuangnnya membushksn hasil ketika putr-putrinya sukses. Semoga Uti tenang di sana. Alfatikah...

    ReplyDelete
  16. Kisah yang luar biasa ya mbak. Perjuangan yang tak kenal lelah. Saya senang membaca kisah spt ini, swlain meningkatkan rasa syukur juga menmbah semangat juang saya yang belum apa2nya ini🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mb Ida.
      Sama2 berjuang demi orang-orang terkasih kita, ya mbak.

      Delete
  17. masyaa Allah.. mbah uti segitu banget ya perjuangannya. salut deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mb Aprilely.
      Alhamdulillah beliau akhirnya bisa mengantarkan putra-putrinya menjadi pribadi yang bermanfaat. ��

      Delete
  18. Maa syaa Allaah, kisah yang menginspiratif sekali mbak. Alhamdulillaah di tangan mbak, nama dan perjalanan Uti jadi abadi meski beliau kini telah tiada. Namun telah meninggalkan pelajaran yang sangat berharga untuk anakcucunya dan semua orang yang membaca cerita mbak tentang perjalanan beliau ini.

    ReplyDelete
  19. MasyaAllah so inspiring
    Orang2 zaman dulu ini emng hebat2 ketabahan dan kegigihannya
    Jadi malu sebagai generasi yg serba mudah kalau ngeluh

    ReplyDelete
  20. Kisahnya menginspirasi sekali mba, bagaimana seorang ibu yang dengan gigih dan pantang menyerah merawat dan membesarkan anak anaknya

    ReplyDelete
  21. Ya Allah mbak, saya rasa beneran terhanyut baca tulisan ini

    Perjuangan mbah uti sungguh luar biasa

    ReplyDelete

tambahkan teks diatas kolom komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel